banner 728x250

Penghargaan Tokoh Pendidikan di Padarincang Disorot Aktivis, Proses Penetapan Diminta Transparan

banner 120x600
banner 468x60

TintaRaya, SERANG – Pemberian piagam penghargaan di bidang pendidikan kepada salah satu tokoh di Kecamatan Padarincang dalam momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Lapangan Rancanini, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, menuai sorotan dari sejumlah aktivis setempat.
‎
‎Sorotan tersebut berkaitan dengan proses penetapan penerima penghargaan. Sejumlah pihak mempertanyakan dasar, mekanisme, serta pertimbangan yang digunakan panitia dalam menentukan tokoh yang menerima penghargaan tersebut.
‎
‎Aktivis Padarincang, Agus, mengatakan bahwa pihaknya menerima informasi mengenai adanya dugaan intervensi dari seorang tokoh dalam proses penetapan penerima penghargaan. Menurutnya, informasi tersebut telah menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat.
‎
‎“Informasi yang kami terima menyebutkan adanya dugaan tekanan terhadap panitia maupun pihak terkait agar tokoh tersebut ditetapkan sebagai salah satu tokoh pendidikan di Padarincang. Hal ini perlu diklarifikasi agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda di masyarakat,” ujar Agus kepada awak media.
‎
‎Agus juga menyebutkan bahwa dugaan intervensi tersebut disebut-sebut melibatkan sejumlah pihak di lingkungan pendidikan. Namun demikian, ia menekankan pentingnya klarifikasi dari pihak penyelenggara maupun pihak-pihak yang disebut agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi polemik.
‎
‎Menurut Agus, penghargaan di bidang pendidikan semestinya diberikan melalui proses yang transparan dan berdasarkan rekam jejak serta kontribusi nyata terhadap dunia pendidikan di Kecamatan Padarincang.
‎
‎“Menurut kami, masih banyak tokoh Padarincang yang layak mendapatkan penghargaan dan memiliki kepedulian terhadap bidang pendidikan, di antaranya H. Drs. Rahmatullah, S.Ag., M.M., H. Juadi, S.Ag., M.M., Pak Yahya, dan H. A. Jurum, S.Ag., M.M., serta masih banyak tokoh Padarincang lainnya,” katanya.
‎
‎Ia berharap pihak panitia dapat menjelaskan secara terbuka mengenai kriteria, mekanisme, dan dasar penetapan penerima penghargaan sehingga masyarakat memperoleh informasi yang jelas.
‎
‎Sementara itu, awak media telah berupaya meminta klarifikasi kepada Iwan Pastel selaku penyelenggara kegiatan melalui pesan WhatsApp. Namun, hingga berita ini disusun, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan meskipun pesan telah disampaikan dan nomor telepon dalam keadaan aktif.
‎
‎Awak media juga menghubungi salah seorang panitia lainnya, Andi Aziz, untuk meminta klarifikasi. Andi menjelaskan bahwa dirinya hanya bertugas pada bagian teknis kegiatan dan tidak mengetahui secara mendalam mengenai kebijakan pemberian penghargaan.
‎
‎“Wa’alaikumsalam. Izin kang, saya di panitia hanya di teknis, jadi untuk hal-hal kebijakan pemberian penghargaan saya kurang paham. Bisa hubungi ketua atau sekjen,” ujar Andi melalui pesan WhatsApp.
‎
‎Andi kemudian menjelaskan bahwa tugasnya lebih berkaitan dengan kebutuhan teknis penyelenggaraan kegiatan.
‎
‎“Kalau tanya teknis pengadaan panggung, baliho, kebersihan boleh ke saya. Kalau hal-hal administrasi saya kurang paham,” jelasnya.
‎
‎Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari ketua atau sekretaris panitia mengenai dasar dan mekanisme penetapan penerima penghargaan tersebut.
‎
‎Para aktivis berharap persoalan ini dapat dijelaskan secara terbuka sehingga pemberian penghargaan kepada tokoh pendidikan benar-benar dapat diterima masyarakat berdasarkan rekam jejak, kontribusi, dan kriteria yang jelas, bukan karena adanya intervensi dari pihak tertentu.
‎
‎Catatan: Seluruh dugaan dalam pemberitaan ini masih memerlukan klarifikasi dan pembuktian dari pihak-pihak terkait. Media memberikan ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak panitia maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan.(*Red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *